Hydrology, Integrated Flood Management, and Public Participation
A. Pilot River Activity
Mengacu pada ODM di Proyek ini, “Pilot River Basin” didefinisikan sebagai river basin yang cenderung baik atau kurang baik dalam pengelolaannya dimana masalah yang penting dalam pengelolaan river basin didefinisikan dan dilatih untuk persiapan training, guideline/manual dan konseling.
Ada lebih dari 2.000 bencana yang terjadi di Indonesia selama tahun 2002 sampai 2005, dengan 743 adalah bencana banjir (35 % dari total) dan banjir membuat orang kehilangan rumah, yang membuat korban menjadi pengungsi bertambah sampai 2.665.697 orang (65%).
Sungai Brantas telah dipilih menjadi Pilot River Basin sejak Proyek ini dimulai pada Juli 2008. Di sisi lain, Sungai Brangkal, salah satu anak sungai dari Sungai Brantas, telah terpengaruh oleh banjir bandang setiap tahun, terutama dirusakkan bencana banjir di tahun 2004.
Upaya non struktural untuk pengurangan bencana banjir adalah bahan utama dalam Integrated Flood Management. Sebagai salah satu kegiatan yang konsisten dalam kegiatan pilot river dalam Proyek ini, salah satu upaya non struktural bekerjasama dengan masyarakat akan diharapkan diterapkan di salah satu anak sungai yang menderita dari banjir bandang Sungai Brantas.
B. Tujuan
Dari sudut pandang Peningkatan Kapasitas, DUWRMT harus fokus pada 5 hal berikut dalam rangka meningkatkan kemampuan staf BBWS Brantas melalui pilot activities :
- Koordinasi Peningkatan Kapasitas dalam Practical WRMT diantara stakeholder
- Peningkatan kapasitas di bidang Hidrologi
- Peningkatan kapasitas dalam Pemetaan Bencana (Hidraulik : Pengelolaan Banjir Terpadu Upaya Non-Struktural)
- Peningkatan kapasitas dalam Pengurangan Bencana Banjir Berbasis Masyarakat / Community Based Flood Disaster Mitigation (CBFDM)
- Peningkatan kapasitas di bidang Partisipasi Masyarakat
C. Pilot Activitiy Area

Gambar Brangkal River Catchment Area
Sungai Brangkal di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Dengan target area di Desa Sooko.
Kegiatan akan diringkas menjadi 6 komponen sebagai berikut :
- Komponen 1 : Pembentukan Institusi yang Bersiap untuk Peringatan Banjir dan Evakuasi
- Komponen 2 : Pengembangan Sistem Monitoring Banjir dan Peringatan-Peramalan Banjir
- Komponen 3 : Pengembangan dan Penyebaran Peta Resiko Banjir
- Komponen 4 : Pengembangan Tahapan Peringatan Banjir dan Prosedur Evakuasi
- Komponen 5 : Operasi dan Pemeliharaan Fasilitas Pertahanan Banjir Bekerjasama Dengan Masyarakat
- Komponen 6 : Memperkuat Partisipasi Masyarakat untuk Pencegahan Banjir
D.Output
- Staf RBO akan mengembangkan kemampuan berkoordinasi dengan stakeholder.
- RBO akan mempunyai pengalaman yang bagus untuk mendukung pemerintah lokal sehingga mereka akan mampu untuk memformulasikan Rencana Regional Pengelolaan Bencana Banjir.
- Staf RBO akan menjadi pelaku yang pertama yang menjalankan Community Based Flood Disaster Management (CBFDM) di Indonesia.
- Staf RBO akan dilatih untuk bidang hidrologi, terutama OJT untuk alat pengukur debit banjir.
- Staf RBO akan belajar bagaimana mengembangkan Peta Resiko Banjir.
- Staf RBO akan belajar Tahapan Peringatan Banjir dan Prosedur Evakuasi
- Guideline dan Manual berikut akan direvisi berdasarkan pengalaman dari Pilot Activity on CBFDM di Sungai Brangkal :
- General Guideline for Formulation of Regional Disaster Management Plan, JICA and BNPB, December, 2008
- Local Disaster Management and Hazard Mapping, Shigenobu TANAKA, International Centre for Water Hazard and Risk Management. October 2008
- Flood Hazard Map Manual for Technology Transfer, Ministry of Land, Infrastructure and Transport, Japan, Infrastructure Development Institute, Japan
- Guideline for Community-based Disaster Risk Management (CBDRM) Activities in Indonesia, JICA and BNPB, December, 2008








